Keistimewaan-keistimewaan dan Keutamaan-keutamaan Tauhid. (Bag. 2)
![]() |
| Keistimewaan-keistimewaan dan Keutamaan-keutamaan Tauhid. (Bag. 2) |
Yang ke Enam: Di antara keistimewaan-keistimewaan tauhid adalah dia sejalan dengan fitrah yang selamat dan akal yang lurus.
Tauhid adalah agama fitrah, seandainya seorang insan dibiarkan berada di atas fitrahnya maka ia tidak akan menerima selain tauhid. Kerena tauhid serasi dengan fitrah. Bahkan tauhid itu sendiri adalah fitrah, sebagaiman Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman:
Tauhid adalah agama fitrah, seandainya seorang insan dibiarkan berada di atas fitrahnya maka ia tidak akan menerima selain tauhid. Kerena tauhid serasi dengan fitrah. Bahkan tauhid itu sendiri adalah fitrah, sebagaiman Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,”(QS. Ar-Ruum: 30)
Sedangkan kesyirikan adalah keluar dan penyimpangan dari fitrah. Oleh karenanya datang sebuah hadits qudsiy dalam shahih Muslim, Allah Ta’ala berfirman:
وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ، وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ
“Dan Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hunafa semuanya, dan sungguh setan-setan telah menjumpai mereka, maka setan-setan itu menyimpangkan dari agama mereka”[1]
خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ “Dan Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hunafa” Maknanya” Di atas fitrah yaitu tauhid. أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ “dan sungguh setan-setan telah menjumpai mereka, maka setan-setan itu menyimpangkan” Maknanya: Menyesatkan mereka dari agama mereka.
Di dalam ash-Shahiih telah datang hadits dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:
Sedangkan kesyirikan adalah keluar dan penyimpangan dari fitrah. Oleh karenanya datang sebuah hadits qudsiy dalam shahih Muslim, Allah Ta’ala berfirman:
وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ، وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ
“Dan Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hunafa semuanya, dan sungguh setan-setan telah menjumpai mereka, maka setan-setan itu menyimpangkan dari agama mereka”[1]
خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ “Dan Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hunafa” Maknanya” Di atas fitrah yaitu tauhid. أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ “dan sungguh setan-setan telah menjumpai mereka, maka setan-setan itu menyimpangkan” Maknanya: Menyesatkan mereka dari agama mereka.
Di dalam ash-Shahiih telah datang hadits dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:
مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، وَيُنَصِّرَانِهِ، كَمَا تُنْتِجُونَ البَهِيمَةَ، هَلْ تَجِدُونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ، حَتَّى تَكُونُوا أَنْتُمْ تَجْدَعُونَهَا؟
“Tidak ada seorang anak yang dilahirkan kecuali dia dilahirkan di atas fitrah, kedua orangtuanyalah yang menjadikannya yahudi dan Nasrani, sebagaimana kalian menghasilkan (anak) hewan ternak (yang dikawinkan), apakah kalian mendapati pada anaknya ada kekurangan (cacat), hingga kalianlah yang membuatnya (memiliki) cacat”[2] dalam sebuah Riwayat: كَمَا تُنْتَجُ البَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ، هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ “Sebagaimana hewan ternak yang melahirkan anaknya yang sempurna (tanpa cacat), apakah kalian merasakan pada anaknya itu ada kecacatan”[3]
Seekor hewan ternak terlahir dari perut ibunya dengan bentuk sempurna, lengkap dengan kedua telinga dan anggota tubuhnya. Jika kaki, tangan, telinga atau anggota tubuh lainnya putus, itu bukanlah bentuk tubuh asalnya. Itu terjadi karena ulah manusia setelah ia keluar dalam keadaan anggota tubuh yang sempurna. Rasulullah bersabda:
Seekor hewan ternak terlahir dari perut ibunya dengan bentuk sempurna, lengkap dengan kedua telinga dan anggota tubuhnya. Jika kaki, tangan, telinga atau anggota tubuh lainnya putus, itu bukanlah bentuk tubuh asalnya. Itu terjadi karena ulah manusia setelah ia keluar dalam keadaan anggota tubuh yang sempurna. Rasulullah bersabda:
حَتَّى تَكُونُوا أَنْتُمْ تَجْدَعُونَهَا؟
“hingga kalianlah yang membuatnya (memiliki) cacat”,
begitu juga dengan bayi yang dilahirkan, ia terlahir di atas fitrah. Jika ia menjadi nasrani, yahudi, majusi atau terjatuh pada suatu penyimpangan, kesesatan dan kebatilan, maka ini terjadi karena ulah kedua orang tuanya, atau lingkungan tempat ia tumbuh. وَيَنْشَأُ ناَشِئُ الْفِتْيَانِ مِنَّا عَلَى مَا كَانَ عَوَّدَهُ أَبُوْه
Pemuda yang tumbuh di antara kita, mempunyai kebiasaan sesuai dengan yang dibiasakan bapaknya.
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Pemuda yang tumbuh di antara kita, mempunyai kebiasaan sesuai dengan yang dibiasakan bapaknya.
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Kedua orang tunyalah yang menjadikannya yahudi, nasrani atau majusi”
beliau tidak mengatakan: أَوْ يُسَلِّماَنِهِ “ atau mengislamkannya” karena ia dilahirkan di atas fitrah. Maka tauhid adalah agama fitrah. Sedangkan kesyirikan atau kesesatan dan kebatilan lainnya, semuanya bertentangan dan jauh dari fitrah.
Sedangkan keserasian tauhid dengan akal yang lurus, karena akal yang lurus yang belum tersesat dan menyimpang tidak akan ridha kepada selain tauhid dan tidak akan menerima kecuali tauhid. Adakah orang yang memiliki akal yang selamat, namun ridha (menerima) berbilangnya tuhan? Dan bergantung pada tanah?
أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ (39) مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ
“manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu.”(QS. Yusuf: 39-40)
Seorang muwahhid (orang yang mentauhaidkan Allah) masa jahiliyah, Zaid Bin Amer Bin Nufail tatkala ia meninggalkan agama kaumnya ia berkata[4]:
أَرَبًّا وَاحِدًا أَمْ أَلْفَ رَبٍّ أَدِيْنُ إِذَا تَقَسَّمَتِ الْأُمُوْرُ
عَزَلْتُ اللَّاتَ وَالْعُزَّى جَمِيْعًا كَذلِكَ يَفْعَلُ الْجَلِدُ الصَّبُوْرُ
فَلَا عُزًّى أَدِيْنُ وَلَا ابْنَتَيْهَا وَلَا صَنَمَيْ بَنِيْ عَمْرٍو أَدِيْرُ
Apakah Tuhan yang satu atau seribu tuhan, yang aku anut (sembah) jika demikian perkara-perkara terbagi-bagi (kacau balau).
Ku tinggalkan lata dan Uzza semuanya, begitulah yang dilakukan seorang yang teguh lagi penyabar.
Tidak ada uzza yang kusembah, dan tidak juga kedua anak perempuannya (yang kusembah), tidak juga kedua patung bani Amer yang ku kelilingi.
Ia mencela kaum Quraisy atas sesembelihan mereka, ia mengatakan: Allah telah menciptakan kambing, dan Allah yang telah menurunkan air untuk (kehidupan) kambing, lalu Dia menumbuhkan tumbuhan dari bumi (untuk makanan) kambing itu, kamudian kalian menyembelihnya dengan nama selain Allah?! Dalam ucapannya ini, ia mengingkari perbuatan mereka dan ia mengagungkan Allah.[5]
Tidak ada satu perkara yang lebih jelas dan gamblang yang diketahui oleh akal daripada pengetahuan terhadap kesempurnaan pencipta alam ini dan mensucikan-Nya dari aib-aib dan kekurangan-kekurangan dan mengesakan-Nya semata dengan kerendahan dan kepatuhan.
Para rasul datang dengan mengingatkan pengetahuan ini lalu mereka menjelaskan perinciannya. Kebaikan tauhid dan keburukan syirik (menyekutukan Allah) menetap di dalam akal sehat dan fitrah. Ini diketahui oleh siapapun yang memiliki hati yang hidup, akal yang lurus dan fitrah yang sehat.
Yang Ke Tujuh: Di antara keistimewaan-keistimewaan tauhid adalah ia sebagai ikatan hakiki, yang terus ada di dunia dan akhirat, tidak ada ikatan antar manusia yang lebih langgeng daripada ikatan tauhid. Karena ikatan ini, yang mengikat antara ahli tauhid dan iman adalah ikatan yang terus ada di dunia dan akhirat:
الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ
“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.”(QS. Az-Zukhruf: 67)
dalam ayat lainnya Allah berfirman:
وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْأَسْبَابُ “dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.”(QS. Al-Baqarah: 166) Maknanya: ikatan-ikatan dan hubungan-hubungan. Segala hubungan akan terputus, segala kecintaan akan pergi, dan segala ikatan akan hilang kecuali hubungan, kecintaan dan ikatan (yang dirajut) dalam tauhid dan keimanan kepada Allah ‘Azza Wa Jalla.
Maka dari itu, segala perkara yang bertujuan untuk Allah maka akan tetap ada dan besambung, dan segala perkara yang bertujuan untuk selain Allah akan terputus dan terpisah. Sekuat dan sedalam apa pun ikatan dan hubungan tersebut, pasti akan berakhir baik di dunia atau di akhirat, kecuali ikatan yang berlandaskan tauhid kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala dan baiknya keimanan kepada-Nya. Inilah ikatan yang akan tetap dan terus ada di dunia dan akhirat.
Yang Ke Delapan: Di antara keistimewaan tauhid adalah ia memiliki sumber yang baik. Ia diambil dari mata air yang jernih dan sumber yang bersih, yang bersumber dari kitabullah dan hadits rasul-Nya shalawaatullaah wa salaamuhu ‘alaihi, yang tidak berbicara dengan hawa nafsunya melainkan berdasarkan wahyu yang disampaikan. Poin ini akan dijelaskan secara rinci pada bahasan khusus.
Yang Ke Sembilan: Di antara keistimewaan tauhid adalah terjamin kekokohannya dan penjagaannya. Allah Tabaaraka wa Ta’ala yang langsung menjamin terjaganya tauhid dan terjaga dan tetapnya agama ini.
Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman:
Sedangkan keserasian tauhid dengan akal yang lurus, karena akal yang lurus yang belum tersesat dan menyimpang tidak akan ridha kepada selain tauhid dan tidak akan menerima kecuali tauhid. Adakah orang yang memiliki akal yang selamat, namun ridha (menerima) berbilangnya tuhan? Dan bergantung pada tanah?
أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ (39) مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ
“manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu.”(QS. Yusuf: 39-40)
Seorang muwahhid (orang yang mentauhaidkan Allah) masa jahiliyah, Zaid Bin Amer Bin Nufail tatkala ia meninggalkan agama kaumnya ia berkata[4]:
أَرَبًّا وَاحِدًا أَمْ أَلْفَ رَبٍّ أَدِيْنُ إِذَا تَقَسَّمَتِ الْأُمُوْرُ
عَزَلْتُ اللَّاتَ وَالْعُزَّى جَمِيْعًا كَذلِكَ يَفْعَلُ الْجَلِدُ الصَّبُوْرُ
فَلَا عُزًّى أَدِيْنُ وَلَا ابْنَتَيْهَا وَلَا صَنَمَيْ بَنِيْ عَمْرٍو أَدِيْرُ
Apakah Tuhan yang satu atau seribu tuhan, yang aku anut (sembah) jika demikian perkara-perkara terbagi-bagi (kacau balau).
Ku tinggalkan lata dan Uzza semuanya, begitulah yang dilakukan seorang yang teguh lagi penyabar.
Tidak ada uzza yang kusembah, dan tidak juga kedua anak perempuannya (yang kusembah), tidak juga kedua patung bani Amer yang ku kelilingi.
Ia mencela kaum Quraisy atas sesembelihan mereka, ia mengatakan: Allah telah menciptakan kambing, dan Allah yang telah menurunkan air untuk (kehidupan) kambing, lalu Dia menumbuhkan tumbuhan dari bumi (untuk makanan) kambing itu, kamudian kalian menyembelihnya dengan nama selain Allah?! Dalam ucapannya ini, ia mengingkari perbuatan mereka dan ia mengagungkan Allah.[5]
Tidak ada satu perkara yang lebih jelas dan gamblang yang diketahui oleh akal daripada pengetahuan terhadap kesempurnaan pencipta alam ini dan mensucikan-Nya dari aib-aib dan kekurangan-kekurangan dan mengesakan-Nya semata dengan kerendahan dan kepatuhan.
Para rasul datang dengan mengingatkan pengetahuan ini lalu mereka menjelaskan perinciannya. Kebaikan tauhid dan keburukan syirik (menyekutukan Allah) menetap di dalam akal sehat dan fitrah. Ini diketahui oleh siapapun yang memiliki hati yang hidup, akal yang lurus dan fitrah yang sehat.
Yang Ke Tujuh: Di antara keistimewaan-keistimewaan tauhid adalah ia sebagai ikatan hakiki, yang terus ada di dunia dan akhirat, tidak ada ikatan antar manusia yang lebih langgeng daripada ikatan tauhid. Karena ikatan ini, yang mengikat antara ahli tauhid dan iman adalah ikatan yang terus ada di dunia dan akhirat:
الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ
“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.”(QS. Az-Zukhruf: 67)
dalam ayat lainnya Allah berfirman:
وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْأَسْبَابُ “dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.”(QS. Al-Baqarah: 166) Maknanya: ikatan-ikatan dan hubungan-hubungan. Segala hubungan akan terputus, segala kecintaan akan pergi, dan segala ikatan akan hilang kecuali hubungan, kecintaan dan ikatan (yang dirajut) dalam tauhid dan keimanan kepada Allah ‘Azza Wa Jalla.
Maka dari itu, segala perkara yang bertujuan untuk Allah maka akan tetap ada dan besambung, dan segala perkara yang bertujuan untuk selain Allah akan terputus dan terpisah. Sekuat dan sedalam apa pun ikatan dan hubungan tersebut, pasti akan berakhir baik di dunia atau di akhirat, kecuali ikatan yang berlandaskan tauhid kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala dan baiknya keimanan kepada-Nya. Inilah ikatan yang akan tetap dan terus ada di dunia dan akhirat.
Yang Ke Delapan: Di antara keistimewaan tauhid adalah ia memiliki sumber yang baik. Ia diambil dari mata air yang jernih dan sumber yang bersih, yang bersumber dari kitabullah dan hadits rasul-Nya shalawaatullaah wa salaamuhu ‘alaihi, yang tidak berbicara dengan hawa nafsunya melainkan berdasarkan wahyu yang disampaikan. Poin ini akan dijelaskan secara rinci pada bahasan khusus.
Yang Ke Sembilan: Di antara keistimewaan tauhid adalah terjamin kekokohannya dan penjagaannya. Allah Tabaaraka wa Ta’ala yang langsung menjamin terjaganya tauhid dan terjaga dan tetapnya agama ini.
Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman:
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.”(QS. At-Taubah: 38)
Allah Jalla Jalaaluh juga berfirman:
Allah Jalla Jalaaluh juga berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا
“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman.”(QS. Al-Hajj: 38)
Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman:
Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ
“Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.”(QS. Ar-Rum: 47)
ِAllah ‘Azza Wa Jalla juga berfirman:
ِAllah ‘Azza Wa Jalla juga berfirman:
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ
“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat”(QS. Ibrahim: 27)
Yang Ke Sepuluh: Di antara keistimewaan tauhid adalah ia menghasilkan banyak kebaikan, keutamaan yang banyak dan dampak-dampak (baik) yang bermacam-macam di dunia dan di akhirat. Ini akan dibahas pada penutupan tema ini.
[1] Dikeluarkan Muslim (2865) dari hadits ‘Iyadh bin Himar al-Mujasyi’iy radhiyallaahu ‘anhu.
[2] Dikeluarkan Bukhari (6599)
[3] Dikeluarkan Bukhari (1358) dan Muslim (2658)
[4] As-Sirah karya Ibnu Ishaq (2/96)
[5] Shahih Bukhari (3826)
Yang Ke Sepuluh: Di antara keistimewaan tauhid adalah ia menghasilkan banyak kebaikan, keutamaan yang banyak dan dampak-dampak (baik) yang bermacam-macam di dunia dan di akhirat. Ini akan dibahas pada penutupan tema ini.
[1] Dikeluarkan Muslim (2865) dari hadits ‘Iyadh bin Himar al-Mujasyi’iy radhiyallaahu ‘anhu.
[2] Dikeluarkan Bukhari (6599)
[3] Dikeluarkan Bukhari (1358) dan Muslim (2658)
[4] As-Sirah karya Ibnu Ishaq (2/96)
[5] Shahih Bukhari (3826)

Post a Comment for "Keistimewaan-keistimewaan dan Keutamaan-keutamaan Tauhid. (Bag. 2)"